CONTOH SURAT DAGANG

PT ANGKASA RAYA

JALAN SILIWANGI 102, JAKARTA

TELEPON (021) 88465289


 

Jakarta, 11 April 2012

Nomor             : 001/AR/12

Lampiran         : 5 Lembar

Perihal             : Penawaran barang elektronik

 

Yth. Direktur PT CITRA PERSADA

Jalan Gunung Sahari 545

Jakarta

 

            Dengan hormat,

            Kami dari PT ANGKASA RAYA bermaksud memperkenalkan diri, bahwa perusahaan kami bergerak di bidang produksi barang-barang elektronik terlengkap di Jakarta.

            Bersama ini kami lampirkan brosur barang-barang elektronik , daftar harga, syarat pembayaran, dan pengiriman barang. Jika perusahaan Anda tertarik, kami akan mengirimkan secepatnya dan akan memberikan potongan harga sebesar 30% untuk daftar barang tertentu.

            Atas perhatian Anda, kami ucapkan terimakasih.

Hormat kami,  

 

Fitry        

Manajer Pemasaran

Posted in Mata Kuliah B. Indonesia | Leave a comment

Contoh Surat Kuasa

SURAT KUASA

 

Yang bertanda tangan di bawah ini

Nama               : Agni

Alamat              : Perum. GKA I blok F.8, Cibadak-Sukabumi

 

Dengan ini memberi kuasa kepada

Nama               : Fitryani

Alamat              : Perum. GKA I blok F.6, Cibadak-Sukabumi

 

Untuk mengambil uang di Bank Artha, nomor rekening 145-78-0008796 atas nama pemberi kuasa sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah). Segala akibat yang timbul atas pemberian kuasa ini menjadi tanggung jawab pemberi kuasa.

Surat kuasa ini dibuat untuk digunakan seperlunya.

 

 

Sukabumi,  18 April 2012

Penerima Kuasa

 

 

 

Fitriyani

Pemberi Kuasa

 

 

 

Agni

 

Posted in Mata Kuliah B. Indonesia | Leave a comment

NAI DAN PERSAHABATAN KAMI

Namanya Nayla. Dia adalah sahabatku sejak sekolah dasar. Aku dan Nai (biasa ku memanggilnya) sekolah di sekolah yang  sama dan satu kelas. Sekarang kami kelas 3 sekolah menengah pertama di SMP Favorit. Jika mengingat saat kami SD, aku dan Nai selalu tertawa karena sikap kami yang sangat kanak-kanak.

Hari itu hari Minggu, kabut masih menyelimuti pekarangan rumahku. Suara burung belum menembus jendela kamarku dan selimut masih menemaniku. Dalam mimpiku terlihat seseorang yang memukul pintu dengan keras sekali. Saat ku lihat dekat wajahnya ternyata itu Nai. Saat terbangun ternyata Nai sudah ada di depan kamarku sambil berteriak membangunkanku.

Aku bergegas membuka pintu dan kembali berbaring.

“Ada apa?” tanyaku lesu.

“Kau lupa ini hari Minggu!” jawab Nai semangat.

“Lalu?”

“Saatnya membuka kotak kenangan.”

“Tapi ini masih sangat pagi, aku juga belum bersiap-siap.”

“Hmmm…. Ku pikir dengan datang pagi, kita punya banyak waktu untuk membaca sebagian isi dari kotak itu.” Jawab Nai lemas.

“Keluarlah.” Jawabku sambil bangkit dari tempat tidur.

Nai memandangku sebentar lalu keluar. Tidak disangka dia menungguku. Selesai mandi dan berganti pakaian, aku keluar dan mengajak Nai untuk sarapan bersama. Setelah selesai, aku dan Nai berpamitan pada orangtuaku lalu bergegas pergi. Tanpa memberitahu tujuan kami.

Kami pergi ke sebuah pohon besar yang berada di taman belakang sekolah kami dulu. Disanalah kami mengubur kotak yang berisi kertas yang bertuliskan kenangan saat kami SD. Kami menamainya “KOTAK KENANGAN”. Sudah rutinitas setiap hari Minggu kami membuka, membaca dan mengingat apa yang terjadi saat itu.

Sesampainya di bawah pohon besar itu kami langsung menggali dan membuka kotak itu.

“Minggu ini apa ya.. kenangan saat kita SD.” Harap Nai tidak sabar.

“Sabar sedikit, sudah beberapa tahun saat kita membuat kotak ini, sehingga berkarat dan sulit dibuka.” Ujarku kesulitan membuka.

Akhirnya kami bisa membuka kotak itu.

“ini… ayo baca!” sambil menyodorkan kertas pada Nai.

“Kita baca sama-sama.”

“Perasaanku yang pertama saat bertemu Ray dan…”

“Kesalah pahamanku yang pertama.”

“Apa maksudnya? Aku tidak ingat.” Tanya Nai padaku.

“Saat dimana kau menyukai Ray dan salah paham denganku. Ingat?” jawabku.

Kami mencoba mengingatnya. Aku dan Nai kelas 6 SD. Saat itu, kami belum terlalu mengerti apa yang dimaksud sayang ataupun cinta. Ray adalah orang yang membuat perasaan Nai tidak karuan setiap kali bertemu. Bisa dibilang Ray orang yang membuat Nai jatuh hati. Terkadang Nai bertanya tentang Ray padaku.

Ray orang yang pintar, supel dan selalu menghargai orang lain. Itulah yang membuat Nai dan perempuan lainnya menyukai Ray. Dia juga sahabatku sejak kecil.

Saat di kantin aku dan Nai duduk dekat taman. Saat itu Ray sedang bermain basket dengan teman-temannya. Nai memperhatikan serius dan pandangannya tak lepas.

“Woi! Bengong aja? Kesambet tahu rasa.” Teriakku padanya.

“Manisnya..” ucapnya tidak mendengarkanku.

“Kalau begitu, beritahu dia. Sebelum…”

“Tapi bagaimana? Mana ada perempuan mengungkapkan perasaannya pada laki-laki.”

“Hampiri dia tatap matanya dan katakana kau suka padanya. Jika kamu gak mau dia dekat orang lain, kesampingkan dulu egomu.” Saranku.

“Mudah bagimu berkata seperti itu!” jawab Nai marah.

“Kau sendiri yang bertanya padaku.”

“Tapi kamu gak ngerti!” sambil pergi meninggalkanku.

Aku hanya memandangnya heran. “Nai, tunggu!” teriakku padanya.

Tanpa memperdulikanku dia terus berjalan lurus menuju kelas. Semakin dekat dengan Nai aku berlari ingin menyusulnya, tidak kusangka kakiku tersandung tempat sampah dan bertabrakan dengan Ray lalu terjatuh. Nai yang ada di depanku berbalik dan berlari menghampiriku.

“Kamu gak apa-apa?” tanyanya cemas.

“Gak. Aku gak apa-apa.”

Lalu Ray dan Nai membantuku berdiri. Aneh rasanya karena Ray terus memandangiku. Nai yang saat itu memandangi Ray merasa heran kenapa dia terus memandangiku. Tiba-tiba Ray mendekati dan memegang rambutku. Dia bermaksud membersihkan rambutku dari daun yang menempel.

“Sebagai perempuan kamu jorok juga ya…” ejeknya padaku.

“Apa sih!” ucapku kesal dan mendorong Ray ke belakang.

Nai yang saat itu berdiri di belakang Ray berteriak karena kakinya terinjak. Dengan spontan Ray memegang Nai dan meminta maaf. Aku berusaha mendorongnya kembali tapi Ray pergi terburu-buru. Akupun menggoda Nai yang tak hentinya menatap Ray.

“Hmm… Dag dig dug. Senangnya..” ujarku.

“Apa sih.”

(teng.. teng… teng…) semuanya pergi begitu saja, bel masuk telah berbunyi. Aku dan Nai segera masuk ke dalam kelas. Setelah kejadian itu, kami bertiga semakin akrab. Ray dan Nai pun terlihat semakin dekat. Sampai setelah UAS semester akhir sekolah, hubungan kami mulai menjauh terutama aku dan Nai karena kesalah pahaman.

Saat itu Ray ingin memberikan hadiah kecil kepada Nai melaluiku. Saat itu Nai melihat dan salah paham dengan kami. Aku berusaha menjelaskan pada Nai tapi Nai tidak pernah mau mendengar apa yang aku katakan. Sampai suatu hari Ray berpamitan denganku karena dia akan meneruskan sekolah ke luar kota. Dia ingin mengatakan perasaannya pada Nai tapi Ray terlalu takut.

Satu hari sebelum keberangkatan Ray aku memberitahu Nai.

“Ini untukmu.” Sambil memberikan surat.

“Apa ini?” tanyanya ketus.

“Surat dari Ray.”

“Buang saja.”

“Buang? Bagaimana bisa, kamu gak perduli dengan Ray. Padahal kamu menyukainya kan?” sambil melempar surat dari Ray ke hadapan Nai.

“Untuk apa aku perduli lagi dengannya. Lagipula dia gak perduli sama aku.” Jawab Nai ketus.

“Gak perduli. Kamu yang gak tahu apa-apa. Terserah kamu mau baca, simpan atau buang surat itu. Aku kesini hanya ingin bilang. Ray menunggumu di stasiun besok pagi jam 7. Terserah kamu mau datang atau gak, yang jelas kamu pasti bakal nyesel.” Ucapku sambil meninggalkan Nai.

Dear Nayla..

                Maaf aku gak bisa ngomong langsung sama kamu soal perasaanku ini karena aku terlalu takut. Aku hanya ingin menyelesaikan permasalahan antara kamu dan  sahabatmu. Saat kamu melihat aku memberi hadiah pada sahabatmu sebenarnya itu untukmu. Aku terlalu takut memberikannya kepadamu langsung. Aku terlalu egois karena merusak persahabatanmu. Satu yang pasti hatiku ini hanya untukmu.

                Aku minta maaf, berbaikanlah dengan sahabatmu. Hari ini aku akan pergi, jika itu mau kamu. Aku akan meneruskan sekolah di luar kota. Kuharap kamu datang hanya untuk mengucapkan kata perpisahan yang terakhir kalinya.

                Maaf…

Ray

Nai hanya diam lalu dia mengambil suratnya. Dia membuang suratnya. Saat tengah malam dia terbangun dan terus memikirkan apa isi surat yang di berikan Ray. Dia bangun dari tempat tidur dan mencari suratnya, dia terus mencari sampai pagi. Setelah pukul 5.30 dia baru menemukan surat itu dan membawanya. Lalu dia menyimpan suratnya di atas meja belajar. Setelah selesai mandi, berganti pakaian dan sarapan dia membuka surat dari Ray dan membacanya di taman belakang rumahnya.

            “Jadi ternyata apa yang dikatakannya. Semua itu benar.”

Nai terdiam sebentar lau berlari pergi meninggalkan rumah menuju stasiun. Sesampainya di stasiun tak ada Ray di sana, yang ada hanya seseorang menunggu kehadiran Nai.

“Kamu datang juga, Ray sudah pergi. Dia hanya menitipkan kata-kata ini untukmu.” Aku terdiam sebentar.

“I LOVE YOU”

“Maaf aku terlalu egois dan cemburu. Kalau aku tahu…” ujar Nai sambil meneteskan air mata.

“Penyesalan selalu datang belakangan. Lebih baik terlambat daripada gak sama sekali.”

“Maaf..” Nai hanya bisa menagis sambil bersandar di bahuku.

TAMAT

 


 

 

“Yang benar aku menangis seperti itu?” Tanya Nai padaku.

“Ya. Kau membuat bahuku sakit saat itu.”

“Maaf. Tidak terasa kita sudah mulai dewasa. Aku rindu dengan Ray, aku ingin minta maaf padanya karena aku tidak mempercayainya.”

“Jadi kau hanya merasa bersalah padanya saja.” Nadaku menyindir Nai.

“Iya… aku juga minta maaf padamu, sahabatku tersayang. Sudah siang, tidak terasa kita bercerita selama ini. Pulang yuk, aku lapar.” Ajaknya padaku.

“Hmmm… tapi kamu yang traktir ya..”

“Oke..”

Semenjak kejadian itu aku dan Nai jarang bertengkar karena kami takut saling kehilangan.

Posted in Mata Kuliah B. Indonesia | Leave a comment

cerita lain : ‘PERSAHABATAN’

Namaku Virsya dan aku mempunyai sahabat bernama Nayla. Dia adalah sahabatku sejak sekolah dasar. Aku dan Nai (biasa ku memanggilnya) sekolah di sekolah yang  sama dan satu kelas. Sekarang kami kelas 3 sekolah menengah atas di SMA Favorit. Jika mengingat saat kami SMP, aku dan Nai selalu tertawa karena sikap kami yang sangat kanak-kanak.

Saat itu, kami masih kelas 1 SMP dan kami masih belum mengerti apa yang dimaksud sayang ataupun cinta. Ray adalah orang yang membuat perasaan Nai tidak karuan setiap kali bertemu. Bisa dibilang Ray orang yang membuat Nai jatuh hati. Terkadang Nai bertanya tentang Ray padaku.

Ray orang yang pintar, supel dan selalu menghargai orang lain. Itulah yang membuat Nai dan perempuan lainnya menyukai Ray. Dia juga sahabatku sejak kecil.

Saat di kantin aku dan Nai duduk dekat taman. Saat itu Ray sedang bermain basket dengan teman-temannya. Nai memperhatikan serius dan pandangannya tidak lepas.

“Woi! Bengong aja? Kesambet tahu rasa.” Teriakku padanya.

“Manisnya..” ucapnya tidak mendengarkanku.

“Kalau begitu, beritahu dia. Sebelum…”

“Tapi bagaimana? Mana ada perempuan mengungkapkan perasaannya pada laki-laki.”

“Hampiri dia tatap matanya dan katakan kau suka padanya. Jika kamu tidak mau dia dekat orang lain, kesampingkan dulu egomu.” Saranku.

“Mudah bagimu berkata seperti itu!” jawab Nai marah.

“Kau sendiri yang bertanya padaku.”

“Tapi kamu gak ngerti!” sambil pergi meninggalkanku.

Aku hanya memandangnya heran. “Nai, tunggu!” teriakku padanya.

Tanpa memperdulikanku dia terus berjalan lurus menuju kelas. Semakin dekat dengan Nai aku berlari ingin menyusulnya, tidak kusangka kakiku tersandung tempat sampah dan bertabrakan dengan Ray lalu terjatuh. Nai yang ada di depanku berbalik dan berlari menghampiriku.

“Kamu gak apa-apa?” tanyanya cemas.

“Gak. Aku gak apa-apa.”

Lalu Ray dan Nai membantuku berdiri. Aneh rasanya karena Ray terus memandangiku. Nai yang saat itu memandangi Ray merasa heran kenapa dia terus memandangiku. Tiba-tiba Ray mendekati dan memegang rambutku. Dia bermaksud membersihkan rambutku dari daun yang menempel.

“Sebagai perempuan kamu jorok juga ya…” ejeknya padaku.

“Apa sih!” ucapku kesal dan mendorong Ray ke belakang.

Nai yang saat itu berdiri di belakang Ray berteriak karena kakinya terinjak. Dengan spontan Ray memegang Nai dan meminta maaf. Aku berusaha mendorongnya kembali tapi Ray pergi terburu-buru. Akupun menggoda Nai yang tak hentinya menatap Ray.

“Hmm… Dag dig dug. Senangnya..” ujarku.

“Apa sih!”

(teng.. teng… teng…) semuanya pergi begitu saja, bel masuk telah berbunyi. Aku dan Nai segera masuk ke dalam kelas. Setelah kejadian itu, kami bertiga semakin akrab. Ray dan Nai pun terlihat semakin dekat. Sampai setelah UAS semester akhir sekolah, hubungan kami mulai menjauh terutama aku dan Nai karena kesalah pahaman.

Saat itu Ray ingin memberikan hadiah kecil kepada Nai melaluiku. Saat itu Nai melihat dan salah paham dengan kami. Aku berusaha menjelaskan pada Nai tapi Nai tidak pernah mau mendengar apa yang aku katakan. Sampai suatu hari Ray berpamitan denganku karena dia akan meneruskan sekolah ke luar kota. Dia ingin mengatakan perasaannya pada Nai tapi Ray terlalu takut.

Satu hari sebelum keberangkatan Ray aku memberitahu Nai.

“Ini untukmu.” Sambil memberikan surat hadiah dari Ray.

“Apa ini?” tanyanya ketus.

“Surat dari Ray dan sesuatu kenangan untukmu.”

“Buang saja.”

“Buang? Bagaimana bisa, kamu gak perduli dengan Ray. Padahal kamu menyukainya kan?” sambil melempar surat dari Ray ke hadapan Nai dan memberikan hadiah dari Ray.

“Untuk apa aku perduli lagi dengannya. Lagipula dia gak perduli sama aku.” Jawab Nai ketus.

“Gak perduli. Kamu yang gak tahu apa-apa. Terserah kamu mau baca, simpan atau buang itu. Aku kesini hanya ingin bilang. Ray menunggumu di stasiun besok pagi jam 7. Terserah kamu mau datang atau gak, yang jelas kamu pasti bakal nyesel.” Ucapku sambil meninggalkan Nai.

Nai hanya diam lalu dia mengambil suratnya dan benar-benar membuang suratnya beserta hadiah yang masih rapi dengan sampul kadonya. Saat tengah malam dia terbangun dan terus memikirkan apa isi surat beserta hadiah yang di berikan Ray. Dia bangun dari tempat tidur dan mencarinya, dia terus mencari sampai pagi. Setelah pukul 5.30 dia baru menemukan surat itu dan membawanya. Lalu dia menyimpan surat dan hadiah di atas meja belajar. Setelah selesai mandi, berganti pakaian dan sarapan dia membuka surat dari Ray dan membukanya di taman belakang rumahnya.

Nai membuka hadiah dan menemukan sebuah kotak musik dengan hiasan berbentuk hati dan didalamnya terdapat ukiran “RNF (Ray Nayla Forever)” . lalu Nai mulai membaca suratnya.

Dear Nayla..

                Maaf aku tak bisa bicara secara langsung ke kamu soal perasaanku ini karena aku terlalu takut. Aku hanya ingin menyelesaikan permasalahan antara kamu dan  sahabatmu. Saat kamu melihat aku memberi hadiah pada sahabatmu sebenarnya itu untukmu. Aku terlalu takut memberikannya kepadamu langsung. Aku terlalu egois karena merusak persahabatanmu. Satu yang pasti hatiku ini hanya untukmu.

                Aku minta maaf, berbaikanlah dengan sahabatmu Virsya . Hari ini aku akan pergi, jika itu mau kamu. Aku akan meneruskan sekolah di luar kota. Kuharap kamu datang hanya untuk mengucapkan kata perpisahan yang terakhir kalinya.

                Maaf…

Ray

 

“Jadi ternyata apa yang dikatakannya. Semua itu benar.”

Tanpa sadar air mata mambasahi pipi Nai dan terdiam sebentar lalu berlari pergi meninggalkan rumah menuju stasiun. Sesampainya di stasiun tidak ada Ray di sana, yang ada hanya seseorang menunggu kehadiran Nai.

“Kamu datang juga, Ray sudah pergi. Dia hanya menitipkan kata-kata ini untukmu.” Aku terdiam sebentar.

“I LOVE YOU”

“Maaf aku terlalu egois dan cemburu. Kalau aku tahu…” ujar Nai sambil meneteskan air mata.

“Penyesalan selalu datang belakangan. Lebih baik terlambat daripada gak sama sekali.”

“Maaf..” Nai hanya bisa menangis sambil bersandar di bahuku.

 “Ya. Kau membuat bahuku sakit.” Sambil memegang kepala Nai.

Nai hanya tersenyum dan semenjak kejadian itu aku dan Nai jarang bertengkar karena kami takut saling kehilangan .

 

Posted in Mata Kuliah B. Indonesia | Leave a comment

KENANGAN MASA SEKOLAH

Fitri biasa saya dipanggil, sekarang saya duduk di bangku SMA kelas X di SMAN 1 CIBADAK. Saya tinggal bersama orang tua di Karang Tengah. Jika berangkat sekolah dan melihat anak-anak sekolah berseragam SD, saya selalu teringat akan masa-masa sekolah dulu.

Terutama saat saya kelas 6 SD, itu adalah masa yang paling menyenangkan. Saat itu minggu-minggu menjelang Ujian Nasional. Saya, guru dan teman-teman pergi menjenguk salah satu teman kami.

Dia sudah satu minggu lebih tidak masuk sekolah, dikarenakan ayahnya meninggal dunia. Ada kabar juga bahwa dia tak akan melanjutkan sekolah. Kami bermaksud untuk mengajaknya kembali.

Setelah sampai di rumahnya, kami menjelaskan maksud kedatangan kami. Setelah berbicara beberapa menit, kami pergi ke makam ayahnya dan berdoa. Setelah selesai, kami memutuskan untuk pulang. Saat di persimpangan kami bingung, ada dua jalan. Jalan pertama adalah jalan yang sebelumnya dilewati dan kedua adalah jalan  memutar.

Ada teman saya yang menyarankan mengambil jalan memutar, akhirnya kami sepakat mengambil jalan yang memutar. Saat melewati jalan itu banyak dari kami terutama anak perempuan yang mengomel karena jalan yang kami lewati adalah jalan setapak dan sangat licin. Saya pun beberapa kali tergelincir, tapi untungnya anak laki-laki membantu kami melewati jalan itu.

Sampai di ujung jalan kami berbelok, menuruni jalan yang cukup curam dan licin. Sebelumnya kami tidak melihat jalan yang ada di depan. Setelah melihatnya saya heran, takut, dan sebagainya.

“Yakin mau lewat sana?” Tanya saya.

“Itu satu-satunya jalan pulang, kalau belok kesana dijamin nyasar, kalau balik lagi gak mungkin, lihat jalannya kasian bu guru.” Jawab anak laki-laki.

“Tapi lumayan kalau jatuh.”

“Gak akan, nanti dibantuin.”

Jalan yang harus kami lewati adalah jembatan rel kereta api, dan dibawahnya sungai dengan batu-batu besar. Anak laki-laki, hampir semua sudah melewati jembatan itu. Anak perempuan pun demikian. Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk melewatinya. Saat sedang susah payah melewatinya sambil ketakutan, anak laki-laki hanya lewat sana-sini tidak membantu, dan membuat kami takut.

Akhirnya saya berhasil, sampai di ujung saya hanya duduk terdiam karena lemas. Ada beberapa dari mereka bertanya kepada saya. Saya pun memarahi mereka karena mereka sama sekali tidak membantu. Disisi lain ada guru dan beberapa teman saya yang lain belum menyebrangi jembatan. Kami bingung saat kami bermaksud kembali, tapi guru saya melarang dan mereka melewati sungai di bawah jembatan.

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya mereka berhasil naik. Kami pun melanjutkan perjalanan ke sekolah, tapi kami tidak langsung ke sekolah kami pergi ke rumah guru untuk istirahat. Disana kami bercerita, bercanda dan melepaskan letih setelah berjalan cukup jauh.

Saat itu kira-kira pukul 11.00 wib, kami semua memutuskan untuk kembali ke sekolah. Saya dan teman-teman kira, kami akan dimarahi guru yang lain karena itu waktunya belajar. Sesampainya di sekolah kami sama sekali tidak dimarahi. Dan sisa waktu belajar, kami gunakan untuk istirahat kembali.

Itu adalah saat-saat yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Tapi saya senang karena bisa bertemu dan mengenal mereka.

Posted in Mata Kuliah B. Indonesia | Leave a comment

‘PERSAHABATAN’

Pagi hari yang cerah, seberkas sinar matahari menembus celah jendela kamarku, terdengar suara burung bernyanyi dengan riang gembira menyambut sang mentari. Kubangkit dari tempat tidur dan mulai melangkahkan kaki keluar rumah masih mengenakan piyama. Terlihat tetesan embun diatas rumput hijau pekarangan rumahku.

            Lalu kuputuskan untuk berjalan-jalan di pekarangan rumah sambil menghirup udara segar. Sampai aku melihat pohon besar di belakang pekarangan rumah yang menghentikan langkahku. Terdiam sejenak saat melihat pohon itu, pohon besar yang rindang, bercabang kesana kemari menutup hampir sepertiga atap rumah. Di bawahnya terdapat kursi panjang, dan ayunan yang diikatkan pada dahan pohon tersebut.

            Sampai akhirnya Ibu memanggilku untuk masuk ke dalam rumah.

“Makan dulu.”, sambil menyodorkan piring.

 “Apakah kamu masih memikirkannya?”, tanya Ibuku sambil melihatku cemas.

“Memikirkan apa?”, jawabku, sambil membalas tatapan Ibu.

“Ibu tahu sulit bagimu untuk melupakannya.”

“Tidak, aku sedang mencoba melupakan kejadian itu”

“Syukurlah kalau begitu. Apakah kamu ada acara hari ini?”

“Entahlah, mungkin aku akan pergi ke taman.”

“Kalau begitu hati-hati.”, kata ibu sambil mengusap lembut kepalaku.

Selesai makan dan mandi, aku pergi ke taman sambil membawa buku. Di taman aku duduk di bangku di bawah lampu taman dimana aku biasa menghabiskan waktu saat masih kecil. Aku membuka buku dan mulai membacanya, tapi saat membuka halaman 12 aku teringat kembali kejadian 4 tahun lalu.

Namaku Nayla tapi teman-temanku memanggilku Nay, sekarang aku bersekolah di SMA favorit di kotaku. Aku memiliki sahabat bernama Syila dia temanku dari kecil, aku dan dia seperti saudara yang sulit dipisahkan. Tak pernah ada dusta diantara kami, karena kami yakin bahwa persahabatan akan hancur jika ada dusta dan ketidakpercayaan diantara satu dengan yang lain.

 Sampai akhirnya, suatu ketika dia mulai menjauh dariku tanpa alasan yang jelas. Setiap aku bertanya kenapa sikapnya berubah dia hanya menjawab,”bukan apa-apa, tak terjadi apa-apa padaku, aku hanya ingin sendiri untuk sementara waktu, percayalah.”

Mungkin karena saat itu aku masih duduk dibangku SD aku dengan mudahnya percaya kata-katanya, dan mungkin karena aku terlalu takut untuk kehilangan Syila. Jadi aku tak pernah bertanya lagi tentang hal itu kepadanya.

Hari itu hari Minggu, aku melihat dia duduk sendiri di bawah lampu taman sambil memegang boneka kesukaannya. Saat akan kuhampiri dia ternyata ada orang lain yang terlebih dahulu menghampirinya dengan sepeda, aku tak tahu siapa yang menghampiri Syila dan akupun baru pertama kali melihatnya. Seorang laki-laki mungkin sebaya denganku mengenakan jaket berwarna coklat dengan celana jins, dan memakai kacamata.

Saat Syila melihatnya, terlihat senyum dipipinya seperti memang orang itu yang sedang dia tunggu. Sempat terpikir olehku siapa laki-laki itu tapi aku langsung pergi menjauh dari taman dengan sepedaku dan tak ingin memikirkannya.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tak menanyakan apapun tentang siapa orang yang ditemuinya di taman, aku hanya berharap dia yang akan menceritakannya padaku. Tapi Syila tidak berkata apapun dan setiap pulang sekolah saat aku megajaknya pergi, mengerjakan tugas bersama atau apapun itu dia selalu menolaknya.

Sampai suatu ketika, pada hari Senin semua orang sedang upacara bendera tiba-tiba Syila pingsan dan membuat semua orang khawatir terutama aku yang berada di sebelahnya. Kemudian guru membawanya ke ruang UKS dan akupun menemani Syila sampai tersadar.

“Apa kau baik-baik saja?”, tanyaku cemas.

“Dimana ini?”,Syila balik bertanya.

“Di UKS. Kenapa kau tiba-tiba pingsan?”

“Entahlah, mungkin karena kelelahan.”, jawabnya lesu.

“Syil…”,

Belum sempat menyelesaikan kata-kataku, Syila langsung menyuruhku kembali ke kelas. Saat itu aku berpikir mungkin dia tak ingin diganggu tapi sikapnya tiap hari semakin aneh terutama terhadapku, dia mulai menjauh. Aku tak tahu apa yang membuatnya seperti itu, setiap ku ingin memulai pembicaraan dia tiba-tiba pergi, setiap ku menyakan sesuatu dia menjawab dengan nada yang tidak enak didengar. Aku pikir aku berbuat kesalahan yang membuatnya seperti itu tapi aku tak tahu apa dan aku tak pernah menanyakannya. Aku terlalu takut untuk itu.

Minggu pagi yang cerah aku memutuskan untuk berkeliling dengan sepedaku. Saat melewati taman aku menghentikan sepedaku dan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ada seseorang yang menabrak ban belakang sepedaku sontak aku terkejut dan langsung menoleh kebelakang.

“Apa kau baik-baik saja? Maaf aku tidak sengaja.”, katanya padaku

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit terkejut. Ngomong-ngomong kamu orang baru disini? Aku baru pertama kali melihatmu.”

“Iya, tapi hanya sementara waktu, aku sedang ada acara keluarga di rumah pamanku. Kenalkan namaku Nanda”, katanya sambil mengulurkan tangan.

“Nayla.”, kataku sambil megulurkan tangan.

Sejak saat itu kami berdua semakin akrab. Setiap sebulan sekali Nanda selalu berkunjung kemari, dan kami menghabiskan waktu bersama. Sampai aku lupa masalahku dengan Syila.

Saat bel pulang sekolah berbunyi untuk pertama kalinya lagi Syila tiba-tiba mengajakku bicara dan dia ingin menemuiku di taman tempat biasa kami berbagi kisah, hari Minggu ini. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan permintaannya.

Hari Minggu aku bangun lebih pagi dari biasanya dan bergegas pergi ke taman, namun saat itu Syila belum ada disana tapi di bangku taman ada bingkisan, aku menghampiri bangku itu dan duduk di sebelah bingkisan itu. Aku tak berani membukanya karena aku tak tahu bingkisan itu milik siapa. Sampai beberapa saat menunggu tiba-tiba Nanda datang dengan terburu-buru.

“Apakah kau sahabat Syila?”, tanyanya dengan nafas terengah-engah.

“Ya, memangnya ada apa?”

“Kenapa kau tidak bilang padaku?”

“Karena kau tidak bertanya. Memangnya ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada Syila?”, tanyaku cemas.

“Ya, hari ini dia akan pindah ke luar kota.”

“Apa maksudmu? Pindah kemana? Darimana kau tahu?”, tanyaku kaget.

“Dia akan pindah ke luar kota. Dia adalah sepupuku. Beberapa minggu yang lalu dia mengajakku kesini dan menceritakan tentang sahabatnya, Nay.”

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Karena kupikir itu bukan kau. Tapi saat dia menunjukkan fotomu tadi malam, aku baru sadar Nay itu adalah kau, Nayla, dan dia menitipkan surat ini padaku.”

“Apa itu? Kenapa dia pergi tanpa memberitahuku?”, tanyaku hampir meneteskan air mata.

“Ini surat untukmu dan bingkisan di belakangmu itu memang untukmu dari Syila. Mungkin dia tidak ingin membuatmu bersedih.”

“Hanya itu? Kenapa aku harus bersedih, seharusnya dia bilang padaku. Lalu selama ini dia menganggapku apa? Aku percaya padanya tapi kenapa dia seperti itu? Lalu untuk apa dia menyuruhku menemuinya jika akhirnya dia pergi tanpa mengatakan apa-apa? Bahkan tanpa sempat aku melihatnya.”, tanyaku sambil berteriak dan tanpa disadari air mataku mulai membasahi pipi.

Nanda hanya diam tak bisa berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian, aku memberanikan diri membuka bingkisan yang diberikan Syila. Di dalamnya terdapat foto dan gantungan kunci berbentuk hati. Saat kubuka surat darinya dan membacanya aku tak kuasa menahan air mataku.


 

“Maafkan aku, karena tidak berkata jujur. Maafkan aku, karena tidak menepati janjiku padamu untuk berkata jujur dan tak menyimpan rahasia. Maafkan aku, jika aku tak percaya padamu. Maafkan aku, karena aku tak menghiraukanmu. Aku tak mengatakan apapun karena aku tak kuasa mengatakan selamat tinggal padamu. Aku terlalu takut jika aku mengatakan bahwa aku akan pergi, aku benar-benar takkan melihatmu lagi. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku.”

Hanya itu yang bisa kuingat dari suratmu kata maaf yang kau tulis untukku. Sambil menghadapkan wajahku ke langit dan berkata,”Kau bodoh jika menganggap aku marah padamu karena itu. Aku yang salah karena tak bisa mempertahankanmu. Karena kau adalah sahabatku dan aku adalah sahabatmu. Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku. Semoga kau tenang disana.”

Posted in Mata Kuliah B. Indonesia | Leave a comment

Coba Kita Pikirkan Kembali

Alam memberikan banyak untuk kita semua.

Alam memberikan semua yang kita butuhkan. Sandang, papan, pangan. Udara yang tak ada habisnya.

Air yang terus mengalir.

Alam memberikan kita tempat berpijak. Memberikan kita sesuatu yang sangat mengagumkan.

Ketenangan yang tak dapat diukur oleh apa pun juga.

Tapi kenapa?

Kenapa dengan mudahnya kita merusak alam sekitar?

Kenapa dengan mudahnya kita membiarkan alam sekitar rusak?

Kenapa dengan mudahnya kita acuhkan alam sekitar kita?

Bukankah semua yang kita butuhkan berasal dari alam?

Bukankah udara yang kita hirup berasal dari alam?

Bukankah air yang kita gunakan berasal dari alam?

Tapi kenapa?

Kenapa dengan mudahnya kita mencemari udara dengan gas-gas CO, N2O, CFC?

Kenapa dengan mudahnya kita mencemari air dengan limbah?

Tidak pernahkah kita bayangkan?

Bagaimana jika udara yang kita hirup habis?

Bagaimana jika air yang kita gunakan habis?

Bagaimana jika tempat kita berpijak sekarang hancur?

Hanya karena keegoisan semata.

Hanya karena ambisi yang tak ada habisnya.

Hanya karena nafsu.

Tidakkah terpikirkan oleh kita semua?

Coba kita pikirkan kembali.

Karena…

Hanya kita yang tahu apa jawabannya.

Image | Posted on by | Tagged , | Leave a comment