NAI DAN PERSAHABATAN KAMI

Namanya Nayla. Dia adalah sahabatku sejak sekolah dasar. Aku dan Nai (biasa ku memanggilnya) sekolah di sekolah yang  sama dan satu kelas. Sekarang kami kelas 3 sekolah menengah pertama di SMP Favorit. Jika mengingat saat kami SD, aku dan Nai selalu tertawa karena sikap kami yang sangat kanak-kanak.

Hari itu hari Minggu, kabut masih menyelimuti pekarangan rumahku. Suara burung belum menembus jendela kamarku dan selimut masih menemaniku. Dalam mimpiku terlihat seseorang yang memukul pintu dengan keras sekali. Saat ku lihat dekat wajahnya ternyata itu Nai. Saat terbangun ternyata Nai sudah ada di depan kamarku sambil berteriak membangunkanku.

Aku bergegas membuka pintu dan kembali berbaring.

“Ada apa?” tanyaku lesu.

“Kau lupa ini hari Minggu!” jawab Nai semangat.

“Lalu?”

“Saatnya membuka kotak kenangan.”

“Tapi ini masih sangat pagi, aku juga belum bersiap-siap.”

“Hmmm…. Ku pikir dengan datang pagi, kita punya banyak waktu untuk membaca sebagian isi dari kotak itu.” Jawab Nai lemas.

“Keluarlah.” Jawabku sambil bangkit dari tempat tidur.

Nai memandangku sebentar lalu keluar. Tidak disangka dia menungguku. Selesai mandi dan berganti pakaian, aku keluar dan mengajak Nai untuk sarapan bersama. Setelah selesai, aku dan Nai berpamitan pada orangtuaku lalu bergegas pergi. Tanpa memberitahu tujuan kami.

Kami pergi ke sebuah pohon besar yang berada di taman belakang sekolah kami dulu. Disanalah kami mengubur kotak yang berisi kertas yang bertuliskan kenangan saat kami SD. Kami menamainya “KOTAK KENANGAN”. Sudah rutinitas setiap hari Minggu kami membuka, membaca dan mengingat apa yang terjadi saat itu.

Sesampainya di bawah pohon besar itu kami langsung menggali dan membuka kotak itu.

“Minggu ini apa ya.. kenangan saat kita SD.” Harap Nai tidak sabar.

“Sabar sedikit, sudah beberapa tahun saat kita membuat kotak ini, sehingga berkarat dan sulit dibuka.” Ujarku kesulitan membuka.

Akhirnya kami bisa membuka kotak itu.

“ini… ayo baca!” sambil menyodorkan kertas pada Nai.

“Kita baca sama-sama.”

“Perasaanku yang pertama saat bertemu Ray dan…”

“Kesalah pahamanku yang pertama.”

“Apa maksudnya? Aku tidak ingat.” Tanya Nai padaku.

“Saat dimana kau menyukai Ray dan salah paham denganku. Ingat?” jawabku.

Kami mencoba mengingatnya. Aku dan Nai kelas 6 SD. Saat itu, kami belum terlalu mengerti apa yang dimaksud sayang ataupun cinta. Ray adalah orang yang membuat perasaan Nai tidak karuan setiap kali bertemu. Bisa dibilang Ray orang yang membuat Nai jatuh hati. Terkadang Nai bertanya tentang Ray padaku.

Ray orang yang pintar, supel dan selalu menghargai orang lain. Itulah yang membuat Nai dan perempuan lainnya menyukai Ray. Dia juga sahabatku sejak kecil.

Saat di kantin aku dan Nai duduk dekat taman. Saat itu Ray sedang bermain basket dengan teman-temannya. Nai memperhatikan serius dan pandangannya tak lepas.

“Woi! Bengong aja? Kesambet tahu rasa.” Teriakku padanya.

“Manisnya..” ucapnya tidak mendengarkanku.

“Kalau begitu, beritahu dia. Sebelum…”

“Tapi bagaimana? Mana ada perempuan mengungkapkan perasaannya pada laki-laki.”

“Hampiri dia tatap matanya dan katakana kau suka padanya. Jika kamu gak mau dia dekat orang lain, kesampingkan dulu egomu.” Saranku.

“Mudah bagimu berkata seperti itu!” jawab Nai marah.

“Kau sendiri yang bertanya padaku.”

“Tapi kamu gak ngerti!” sambil pergi meninggalkanku.

Aku hanya memandangnya heran. “Nai, tunggu!” teriakku padanya.

Tanpa memperdulikanku dia terus berjalan lurus menuju kelas. Semakin dekat dengan Nai aku berlari ingin menyusulnya, tidak kusangka kakiku tersandung tempat sampah dan bertabrakan dengan Ray lalu terjatuh. Nai yang ada di depanku berbalik dan berlari menghampiriku.

“Kamu gak apa-apa?” tanyanya cemas.

“Gak. Aku gak apa-apa.”

Lalu Ray dan Nai membantuku berdiri. Aneh rasanya karena Ray terus memandangiku. Nai yang saat itu memandangi Ray merasa heran kenapa dia terus memandangiku. Tiba-tiba Ray mendekati dan memegang rambutku. Dia bermaksud membersihkan rambutku dari daun yang menempel.

“Sebagai perempuan kamu jorok juga ya…” ejeknya padaku.

“Apa sih!” ucapku kesal dan mendorong Ray ke belakang.

Nai yang saat itu berdiri di belakang Ray berteriak karena kakinya terinjak. Dengan spontan Ray memegang Nai dan meminta maaf. Aku berusaha mendorongnya kembali tapi Ray pergi terburu-buru. Akupun menggoda Nai yang tak hentinya menatap Ray.

“Hmm… Dag dig dug. Senangnya..” ujarku.

“Apa sih.”

(teng.. teng… teng…) semuanya pergi begitu saja, bel masuk telah berbunyi. Aku dan Nai segera masuk ke dalam kelas. Setelah kejadian itu, kami bertiga semakin akrab. Ray dan Nai pun terlihat semakin dekat. Sampai setelah UAS semester akhir sekolah, hubungan kami mulai menjauh terutama aku dan Nai karena kesalah pahaman.

Saat itu Ray ingin memberikan hadiah kecil kepada Nai melaluiku. Saat itu Nai melihat dan salah paham dengan kami. Aku berusaha menjelaskan pada Nai tapi Nai tidak pernah mau mendengar apa yang aku katakan. Sampai suatu hari Ray berpamitan denganku karena dia akan meneruskan sekolah ke luar kota. Dia ingin mengatakan perasaannya pada Nai tapi Ray terlalu takut.

Satu hari sebelum keberangkatan Ray aku memberitahu Nai.

“Ini untukmu.” Sambil memberikan surat.

“Apa ini?” tanyanya ketus.

“Surat dari Ray.”

“Buang saja.”

“Buang? Bagaimana bisa, kamu gak perduli dengan Ray. Padahal kamu menyukainya kan?” sambil melempar surat dari Ray ke hadapan Nai.

“Untuk apa aku perduli lagi dengannya. Lagipula dia gak perduli sama aku.” Jawab Nai ketus.

“Gak perduli. Kamu yang gak tahu apa-apa. Terserah kamu mau baca, simpan atau buang surat itu. Aku kesini hanya ingin bilang. Ray menunggumu di stasiun besok pagi jam 7. Terserah kamu mau datang atau gak, yang jelas kamu pasti bakal nyesel.” Ucapku sambil meninggalkan Nai.

Dear Nayla..

                Maaf aku gak bisa ngomong langsung sama kamu soal perasaanku ini karena aku terlalu takut. Aku hanya ingin menyelesaikan permasalahan antara kamu dan  sahabatmu. Saat kamu melihat aku memberi hadiah pada sahabatmu sebenarnya itu untukmu. Aku terlalu takut memberikannya kepadamu langsung. Aku terlalu egois karena merusak persahabatanmu. Satu yang pasti hatiku ini hanya untukmu.

                Aku minta maaf, berbaikanlah dengan sahabatmu. Hari ini aku akan pergi, jika itu mau kamu. Aku akan meneruskan sekolah di luar kota. Kuharap kamu datang hanya untuk mengucapkan kata perpisahan yang terakhir kalinya.

                Maaf…

Ray

Nai hanya diam lalu dia mengambil suratnya. Dia membuang suratnya. Saat tengah malam dia terbangun dan terus memikirkan apa isi surat yang di berikan Ray. Dia bangun dari tempat tidur dan mencari suratnya, dia terus mencari sampai pagi. Setelah pukul 5.30 dia baru menemukan surat itu dan membawanya. Lalu dia menyimpan suratnya di atas meja belajar. Setelah selesai mandi, berganti pakaian dan sarapan dia membuka surat dari Ray dan membacanya di taman belakang rumahnya.

            “Jadi ternyata apa yang dikatakannya. Semua itu benar.”

Nai terdiam sebentar lau berlari pergi meninggalkan rumah menuju stasiun. Sesampainya di stasiun tak ada Ray di sana, yang ada hanya seseorang menunggu kehadiran Nai.

“Kamu datang juga, Ray sudah pergi. Dia hanya menitipkan kata-kata ini untukmu.” Aku terdiam sebentar.

“I LOVE YOU”

“Maaf aku terlalu egois dan cemburu. Kalau aku tahu…” ujar Nai sambil meneteskan air mata.

“Penyesalan selalu datang belakangan. Lebih baik terlambat daripada gak sama sekali.”

“Maaf..” Nai hanya bisa menagis sambil bersandar di bahuku.

TAMAT

 


 

 

“Yang benar aku menangis seperti itu?” Tanya Nai padaku.

“Ya. Kau membuat bahuku sakit saat itu.”

“Maaf. Tidak terasa kita sudah mulai dewasa. Aku rindu dengan Ray, aku ingin minta maaf padanya karena aku tidak mempercayainya.”

“Jadi kau hanya merasa bersalah padanya saja.” Nadaku menyindir Nai.

“Iya… aku juga minta maaf padamu, sahabatku tersayang. Sudah siang, tidak terasa kita bercerita selama ini. Pulang yuk, aku lapar.” Ajaknya padaku.

“Hmmm… tapi kamu yang traktir ya..”

“Oke..”

Semenjak kejadian itu aku dan Nai jarang bertengkar karena kami takut saling kehilangan.

About fitry4ni

I'm 16 years old. I was born in Bogor. my hobbies are listen music, watching film, and sometimes reading novel or comic.
This entry was posted in Mata Kuliah B. Indonesia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s