‘PERSAHABATAN’

Pagi hari yang cerah, seberkas sinar matahari menembus celah jendela kamarku, terdengar suara burung bernyanyi dengan riang gembira menyambut sang mentari. Kubangkit dari tempat tidur dan mulai melangkahkan kaki keluar rumah masih mengenakan piyama. Terlihat tetesan embun diatas rumput hijau pekarangan rumahku.

            Lalu kuputuskan untuk berjalan-jalan di pekarangan rumah sambil menghirup udara segar. Sampai aku melihat pohon besar di belakang pekarangan rumah yang menghentikan langkahku. Terdiam sejenak saat melihat pohon itu, pohon besar yang rindang, bercabang kesana kemari menutup hampir sepertiga atap rumah. Di bawahnya terdapat kursi panjang, dan ayunan yang diikatkan pada dahan pohon tersebut.

            Sampai akhirnya Ibu memanggilku untuk masuk ke dalam rumah.

“Makan dulu.”, sambil menyodorkan piring.

 “Apakah kamu masih memikirkannya?”, tanya Ibuku sambil melihatku cemas.

“Memikirkan apa?”, jawabku, sambil membalas tatapan Ibu.

“Ibu tahu sulit bagimu untuk melupakannya.”

“Tidak, aku sedang mencoba melupakan kejadian itu”

“Syukurlah kalau begitu. Apakah kamu ada acara hari ini?”

“Entahlah, mungkin aku akan pergi ke taman.”

“Kalau begitu hati-hati.”, kata ibu sambil mengusap lembut kepalaku.

Selesai makan dan mandi, aku pergi ke taman sambil membawa buku. Di taman aku duduk di bangku di bawah lampu taman dimana aku biasa menghabiskan waktu saat masih kecil. Aku membuka buku dan mulai membacanya, tapi saat membuka halaman 12 aku teringat kembali kejadian 4 tahun lalu.

Namaku Nayla tapi teman-temanku memanggilku Nay, sekarang aku bersekolah di SMA favorit di kotaku. Aku memiliki sahabat bernama Syila dia temanku dari kecil, aku dan dia seperti saudara yang sulit dipisahkan. Tak pernah ada dusta diantara kami, karena kami yakin bahwa persahabatan akan hancur jika ada dusta dan ketidakpercayaan diantara satu dengan yang lain.

 Sampai akhirnya, suatu ketika dia mulai menjauh dariku tanpa alasan yang jelas. Setiap aku bertanya kenapa sikapnya berubah dia hanya menjawab,”bukan apa-apa, tak terjadi apa-apa padaku, aku hanya ingin sendiri untuk sementara waktu, percayalah.”

Mungkin karena saat itu aku masih duduk dibangku SD aku dengan mudahnya percaya kata-katanya, dan mungkin karena aku terlalu takut untuk kehilangan Syila. Jadi aku tak pernah bertanya lagi tentang hal itu kepadanya.

Hari itu hari Minggu, aku melihat dia duduk sendiri di bawah lampu taman sambil memegang boneka kesukaannya. Saat akan kuhampiri dia ternyata ada orang lain yang terlebih dahulu menghampirinya dengan sepeda, aku tak tahu siapa yang menghampiri Syila dan akupun baru pertama kali melihatnya. Seorang laki-laki mungkin sebaya denganku mengenakan jaket berwarna coklat dengan celana jins, dan memakai kacamata.

Saat Syila melihatnya, terlihat senyum dipipinya seperti memang orang itu yang sedang dia tunggu. Sempat terpikir olehku siapa laki-laki itu tapi aku langsung pergi menjauh dari taman dengan sepedaku dan tak ingin memikirkannya.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tak menanyakan apapun tentang siapa orang yang ditemuinya di taman, aku hanya berharap dia yang akan menceritakannya padaku. Tapi Syila tidak berkata apapun dan setiap pulang sekolah saat aku megajaknya pergi, mengerjakan tugas bersama atau apapun itu dia selalu menolaknya.

Sampai suatu ketika, pada hari Senin semua orang sedang upacara bendera tiba-tiba Syila pingsan dan membuat semua orang khawatir terutama aku yang berada di sebelahnya. Kemudian guru membawanya ke ruang UKS dan akupun menemani Syila sampai tersadar.

“Apa kau baik-baik saja?”, tanyaku cemas.

“Dimana ini?”,Syila balik bertanya.

“Di UKS. Kenapa kau tiba-tiba pingsan?”

“Entahlah, mungkin karena kelelahan.”, jawabnya lesu.

“Syil…”,

Belum sempat menyelesaikan kata-kataku, Syila langsung menyuruhku kembali ke kelas. Saat itu aku berpikir mungkin dia tak ingin diganggu tapi sikapnya tiap hari semakin aneh terutama terhadapku, dia mulai menjauh. Aku tak tahu apa yang membuatnya seperti itu, setiap ku ingin memulai pembicaraan dia tiba-tiba pergi, setiap ku menyakan sesuatu dia menjawab dengan nada yang tidak enak didengar. Aku pikir aku berbuat kesalahan yang membuatnya seperti itu tapi aku tak tahu apa dan aku tak pernah menanyakannya. Aku terlalu takut untuk itu.

Minggu pagi yang cerah aku memutuskan untuk berkeliling dengan sepedaku. Saat melewati taman aku menghentikan sepedaku dan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ada seseorang yang menabrak ban belakang sepedaku sontak aku terkejut dan langsung menoleh kebelakang.

“Apa kau baik-baik saja? Maaf aku tidak sengaja.”, katanya padaku

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit terkejut. Ngomong-ngomong kamu orang baru disini? Aku baru pertama kali melihatmu.”

“Iya, tapi hanya sementara waktu, aku sedang ada acara keluarga di rumah pamanku. Kenalkan namaku Nanda”, katanya sambil mengulurkan tangan.

“Nayla.”, kataku sambil megulurkan tangan.

Sejak saat itu kami berdua semakin akrab. Setiap sebulan sekali Nanda selalu berkunjung kemari, dan kami menghabiskan waktu bersama. Sampai aku lupa masalahku dengan Syila.

Saat bel pulang sekolah berbunyi untuk pertama kalinya lagi Syila tiba-tiba mengajakku bicara dan dia ingin menemuiku di taman tempat biasa kami berbagi kisah, hari Minggu ini. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan permintaannya.

Hari Minggu aku bangun lebih pagi dari biasanya dan bergegas pergi ke taman, namun saat itu Syila belum ada disana tapi di bangku taman ada bingkisan, aku menghampiri bangku itu dan duduk di sebelah bingkisan itu. Aku tak berani membukanya karena aku tak tahu bingkisan itu milik siapa. Sampai beberapa saat menunggu tiba-tiba Nanda datang dengan terburu-buru.

“Apakah kau sahabat Syila?”, tanyanya dengan nafas terengah-engah.

“Ya, memangnya ada apa?”

“Kenapa kau tidak bilang padaku?”

“Karena kau tidak bertanya. Memangnya ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada Syila?”, tanyaku cemas.

“Ya, hari ini dia akan pindah ke luar kota.”

“Apa maksudmu? Pindah kemana? Darimana kau tahu?”, tanyaku kaget.

“Dia akan pindah ke luar kota. Dia adalah sepupuku. Beberapa minggu yang lalu dia mengajakku kesini dan menceritakan tentang sahabatnya, Nay.”

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Karena kupikir itu bukan kau. Tapi saat dia menunjukkan fotomu tadi malam, aku baru sadar Nay itu adalah kau, Nayla, dan dia menitipkan surat ini padaku.”

“Apa itu? Kenapa dia pergi tanpa memberitahuku?”, tanyaku hampir meneteskan air mata.

“Ini surat untukmu dan bingkisan di belakangmu itu memang untukmu dari Syila. Mungkin dia tidak ingin membuatmu bersedih.”

“Hanya itu? Kenapa aku harus bersedih, seharusnya dia bilang padaku. Lalu selama ini dia menganggapku apa? Aku percaya padanya tapi kenapa dia seperti itu? Lalu untuk apa dia menyuruhku menemuinya jika akhirnya dia pergi tanpa mengatakan apa-apa? Bahkan tanpa sempat aku melihatnya.”, tanyaku sambil berteriak dan tanpa disadari air mataku mulai membasahi pipi.

Nanda hanya diam tak bisa berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian, aku memberanikan diri membuka bingkisan yang diberikan Syila. Di dalamnya terdapat foto dan gantungan kunci berbentuk hati. Saat kubuka surat darinya dan membacanya aku tak kuasa menahan air mataku.


 

“Maafkan aku, karena tidak berkata jujur. Maafkan aku, karena tidak menepati janjiku padamu untuk berkata jujur dan tak menyimpan rahasia. Maafkan aku, jika aku tak percaya padamu. Maafkan aku, karena aku tak menghiraukanmu. Aku tak mengatakan apapun karena aku tak kuasa mengatakan selamat tinggal padamu. Aku terlalu takut jika aku mengatakan bahwa aku akan pergi, aku benar-benar takkan melihatmu lagi. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku.”

Hanya itu yang bisa kuingat dari suratmu kata maaf yang kau tulis untukku. Sambil menghadapkan wajahku ke langit dan berkata,”Kau bodoh jika menganggap aku marah padamu karena itu. Aku yang salah karena tak bisa mempertahankanmu. Karena kau adalah sahabatku dan aku adalah sahabatmu. Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku. Semoga kau tenang disana.”

About fitry4ni

I'm 16 years old. I was born in Bogor. my hobbies are listen music, watching film, and sometimes reading novel or comic.
This entry was posted in Mata Kuliah B. Indonesia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s